Ujian Nasi(b)onal, Ungkapan Cinta

Published on 13 May 2015

Gonjang-ganjing kebocoran soal UN tingkat SMA masih terngiang di telinga. Kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab telah mencoreng nilai kejujuran sebagai salah satu sikap dasar kepribadian bangsa. Karena itulah Ujian Nasional tingkat SMP diawasi secara lebih ketat. Pada tanggal 4-7 Mei 2015, seluruh siswa kelas 9 SMP se Indonesia mengadakan ujian akhir. “Selama empat hari ini nasib kita ditentukan”, kata salah satu siswa yang diikuti gelak tawa teman-temanya. Ujian Nasional tentu bukan ujian nasib. Ujian Nasional hanyalah salah satu komponen pembelajaran dimana kemampuan belajar anak didik diuji. “Kendati UN sekarang tidak mempengaruhi kelulusan, tapi hasilnya tidak boleh hanya rata-rata” kata Keiza Valeria. “Harus diatas itu. Optimis!” kata Dang Alam Panjaitan menambahkan. SMP St. Bellarminus berlindung pada Santo Robertus Bellarminus, seorang Jesuit. Langsung ataupun tidak langsung, ia menghidupi spiritualitas Ignatian, semangat Ignatius Loyola-pendiri Serikat Jesus. Salah satu yang menarik dari spiritualitas Ignatian adalah sikap dan semangat “memberi lebih”. Jika tarekat religious mempunyai tiga kaul (janji kepada Tuhan) maka Ignatius Loyola menambahkan satu kaul lagi, yakni taat kepada Paus; pemimpin tertingi gereja Katolik. Inilah salah satu sikap memberi lebih secara positif. “Jika nilai KKM 70, maka kami harus memberi (mendapatkan) nilai di atas itu; 80 minimal!” kata Ucup menirukan wejangan gurunya. Ujian kali ini baiklah tidak dimaknai sebagai ujian nasib, melainkan ungkapan cinta. Cinta guru-guru terhadap anak-anak didiknya, dan cinta anak-anak terhadap diri dan masa depan mereka. Tentu juga cinta kita semua terhadap kehidupan yang lebih baik. Filantropi! (Ant)