Mencuci Kebaya Kartini

Published on 22 April 2015

Sama seperti tahun lalu, tahun ini SMP St. Bellarminus menyelenggarakan upacara bendera dalam rangka memperingati hari Kartini. Upacara bendera yang dikoordinasi oleh OSIS ini, menunjuk kelas 8C sebagai petugas upacara. Ricco Putra selaku pemimpin upacara telah membariskan seluruh peserta upacara tepat pukul 07.00 WIB (21/04) di lapangan Lt.3, kampus SMP St. Bellarminus. Upacara benderapun segera dimulai. Dalam amanatnya pak Tanto selaku Pembina upacara memberikan beberapa point. Pertama, memperingati peristiwa Kartini, berarti berbicara tentang kebudayaan, intelektual dan spiritualitas. Peristiwa Kartini tidak bisa dipisahkan dari unsur sosial kebudayaan Jawa yang patriarki dengan memandang trah ningrat (borjuis) dan jelata (proletar). Kebudayaan itu memposisikan masyarakat hidup dalam kelas-kelas sosial. Akibatnya perempuan dianggap warga kelas dua yang hanya cocok dijadikan “konco wingking”. Kartini gelisah tentang realitas ini. Sebagai perempuan yang cerdas, Kartini kemudian membuka wawasan dengan rajin membaca dan berdiskusi melalui korespondensi dengan teman-temannya di Eropa. Kehidupan perempuan Eropa sempat membuatnya iri dan sekaligus berani bermimpi; perempuan Jawa harus semaju perempuan Eropa. Salah satu untuk mencapai kemajuan itu adalah dengan membiarkan kaum perempuan mengenyam bangku pendidikan. Kartini yang ingin mengembangkan pengetahuannya dengan cara studi di Belanda itu, menyimpan cita-cita, kelak dapat membuka sekolah untuk kaum perempuan. Kartini juga mengkritisi unsur-unsur dalam agamanya yang sudah dianut oleh nenek moyangnya. Baginya menghafal sesuatu harus disertai mengetahui dan memahaminya. Akhirnya pertanyaan tentang agamanya itu dijawab oleh Kyai dari Demak, yang menerjemahkan Al-Quran ke dalam Melayu (arab gundul), sehingga Kartini semakin paham dan berkobar-kobar spiritualitasnya. Sebagai orang beriman, ia percaya akan dituntun Allah keluar dari kegelapan menuju pada terang sejati. Kedua, bicara tentang Kartini berarti bicara tentang pendidikan. “Dari Gelap Terbitlah Terang” sesungguhnya merupakan nilai dan arti dari guru. Dalam bahasa Sangsekerta guru terdiri dari kata “gu” yang berarti gelap dan “ru” yang berarti terang. Guru mempunyai tugas untuk mengajak anak-anak didik keluar dari kegelapan menuju pada terang mencerahkan.


Sayangnya peringatan hari Kartini seringkali terjebak pada baju kebaya (pakaian adat/daerah). Hampir tiap tahun selalu demikian. Anak-anak yang lucu dan manis-manis itu pagi-pagi buta sudah berdandan, berpakaian daerah. Tidak ada yang salah dari bentuk kegiatan demikian, namun biasanya hanya berhenti pada “fashion show”, yang terasa kurang menyentuh pada nilai-nilai substansial tentang buah pikiran dan pergumulan batin Kartini. Kini saatnya mencuci kebaya Kartini yang tiap tahun selalu dipakai, lalu perlahan beralih pada upaya memetik spiritnya untuk menjadi pribadi yang utuh dengan cara mengolah kemanusiaan, religiusitas, intelektual dan kebudayaan. Semoga hari Kartini tahun ini membawa pencerahan yang menumbuhkan tunas-tunas baru untuk setiap anak-anak Indonesia.(AS)