Anak-Anak Langit Turun ke Taman

Published on 21 April 2015

Setelah istirahat pertama, kelas delapan B dan C keluar kampus SMP St. Bellarminus. Mereka menyusuri jalan Lombok menuju Balai Budaya di Jl. Gereja Theresia untuk menyaksikan pameran tunggal, pelukis Syaffrudin yang berpameran di tempat itu selama satu pekan. Di tempat itu, anak-anak belajar sejarah perkembangan gerakan kebudayaan Indonesia. Dulu, tahun 1970-an seniman-seniman besar seperti Sudjojono maupun Affandi pernah berpameran di tempat yang sekarang tidak terawat itu. Bahkan sebelum ada gedung pertunjukan, WS. Rendra bersama Bengkel Teater-nya pernah menggelar pementasan di gedung sekecil itu. Balai Budaya menjadi saksi sejarah kiprah seniman-seniman besar Indonesia menorehkan karya-karya mereka. Sayang, kondisinya sekarang jauh dari layak.

Kini banyak seniman mulai melirik tempat itu lagi, termasuk Syaffrudin. Ketika ruang-ruang pamer semakin hilang di Jakarta, mereka menanyakan fungsi sekaligus “meminta” Balai Budaya yang tidak terawat itu. Lepas dari pergumulan ruang pamer, Syaffrudin memotret kehidupan anak-anak pada kanvasnya. Ada yang menyebut karyanya naïf, ada pula yang menyebut ekspresionis dan lain-lain. Seolah Syaffrudin mempertanyakan ‘ruang bermain’ untuk anak-anak zaman ini. “Ini anak langit. Sebuah potret anak-anak yang tidak mengenal daratan. Bangun tidur mereka mandi, lalu diantar ke sekolah dengan mobil. Pulang di jemput dan kemudian les, sampai rumah di apartemennya sudah malam; kembali ke langit untuk tidur”, kata Syaffrudin. Potret anak langit ini banyak ditemukan pada siswa-siswi St. Bellarminus. “Kita banget ya?”, kata salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya.
Para siswa-siwi kemudian mencermati karya lukis yang dipamerkan satu demi satu. Lukisan dengan teknik sederhana ini ternyata menginspirasi mereka untuk membuat suatu karya. “Kalau begini saya juga bisa bikin dong pak”, kata Jenicca. “Berarti yang penting maknanya kan, pesan yang mau disampaikan kan?”, tanya Gilang.

Selepas dari Balai Budaya, siswa-siswi berjalan menuju Taman Suropati. Di jalanan mereka sempat berinteraksi dengan orang lain. Selain belajar musik di taman yang rindang itu, anak-anak belajar mengamati dan wawancara dengan beberapa orang yang mengunjungi taman itu. Taman Suropati menjadi semacam oase bagi panas dan gersangnya Jakarta. Kali ini oase itu dirasakan oleh siswa-siswi kelas delapan SMP St. Bellarminus setelah berhari-hari belajar dalam ruangan dan terbatas, sekarang dapat belajar di alam terbuka nan hijau. Di Taman Suropati anak-anak langit menjejakkan kakinya, berjalan, berlarian, melompat-lompat. Mereka belajar dari burung-burung yang terbang bebas. Mereka juga belajar dari tonggak-tonggak sejarah yang tertanam dalam rupa patung-patung abstrak. Selain itu, mereka belajar bagaimana tempat ini bisa menghidupi banyak orang.

“Saya jualan minuman di Taman Suropati ini sudah lama. Ya alhamdulilah laris, apalagi kalau hari Sabtu dan Minggu.” Kata seorang pedagang minuman keliling yang ditemui Sevita. Hal senada diungkapkan oleh tukang ukir bambu yang berdandan nyentrik ala seniman. “Satu lukisan wajah hitam-putih seukuran A4 harganya sekitar 200 ribu”, kata Lik Darpo, seniman jalanan asal Pekalongan yang mengaku berumah di Taman Suropati. Setelah belajar musik “Melompat Lebih Tinggi” yang dipopulerkan oleh Sheila on 7 para siswa-siswi pulang ke kampus dengan berjalan kaki dengan satu pertanyaan reflektif; “Bagaimana caranya hidupku (juga sekolahku) bisa menjadi oase bagi kehidupan yang lain?”. Semoga proses pembelajaran ini membuat anak-anak bahagia, sebahagia kelak saat mereka menuai sukses! (ant)